Pasrah dan Tawakal kepada Allah

Pasrah dan Tawakal kepada Allah
1. Pasrah dan Tawakal, Dalam kamus Bahasa Indonesia online di jelaskan sebagai berikut
a. pasrah/pas·rah/ v menyerah(kan) sepenuhnya: marilah kita — kepada takdir dengan hati yang tabah; ia — kepada apa yang akan diputuskan oleh pengadilan; berpasrah/ber·pas·rah/ v berserah (diri): ~ diri kepada Tuhan sambil berdoa agar terhindar dari malapetaka; memasrahkan/me·mas·rah·kan/ v menyerahkan: pengungsi itu ~ nasibnya kepada negara yang menampung mereka; kepasrahan/ke·pas·rah·an/ n perihal pasrah

b. tawakal/ta·wa·kal/ v pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah (dalam penderitaan dan sebagainya): habis akal baru — , sesudah berikhtiar, baru berserah kepada Allah; bertawakal/ber·ta·wa·kal/ v berserah diri kepada kehendak Allah; memiliki rasa tawakal: kita harus selalu ~

Setiap muslim harus menunjukan sikap pasrah dan tawakkalnya kepada Allah SWT. Namun apakah kita memahami apakah pasrah dan tawakal itu? Pasrah adalah sikap menerima, tanpa ada usaha, menerima apa hal yang telah dialaminya berdasarkan keyakinan. Sedangkan tawakal adalah sikap menerima yang dilakukan setelah seseorang berusaha dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Lebih jelasnya tawakal berarti penyandaran, penyerahan dan mempercayakan suatu perkara kepada pihak lain. Seorang muslim yang tawakal adalah yang menyerahkan, menyandarkan dan mempercayakan kepada Allah SWT atas segala yang sudah dilakukannya.
dalam keyakinan seorang muslim pasrah yang benar adalah sikap yang ditunjukan seseorang setelah ia berusaha dengan sungguh-sungguh setelah itu ia menyerahkan hasil dari usaha yang telah ia lakukan kepada Allah. Jika kita perhatikan tentu antara pasrah dan tawakal memiliki persamaan dan perbedaan. Tawakal tidak sama dengan pasrah. Pasrah dan tawakal sama sama berserah diri namun tawakal adalah sebuah kepasrahan dengan tindakan aktif, sementara pasrah adalah tindakan pasif. Pasrah adalah dapat kita umpamakan seperti sayuran yang tersedia diatas meja, siap diolah apa saja oleh pemiliknya. Sedang tawakal sama sekali tidaklah seperti itu. Dalam tawakal mensyaratkan adanya upaya kreatif dari pelakunya agar menghasilkan sayuran yang lezat dan penuh manfaat, begitu kira-kira

Iklan
Dipublikasi di AKLAK, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Syahadat dan Syahadatain serta Konsekuensi dan nilai-nilainya

Syahadat dan Syahadatain serta Konsekuensi dan nilai-nilainya
Arti Syahadat, Syahadat berasal dari kata bahasa Arab yaitu syahida (شهد) yang artinya “ia telah menyaksikan”. Kalimat itu dalam syariat Islam adalah sebuah pernyataan kepercayaan sekaligus pengakuan akan keesaan Allah dan rasulnya Muhammad SAW.
Arti Syahadatain, Syahadatain adalah dua kalimat syahadat, yaitu pernyataan pengakuan Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat atau dua kalimat syahadat itu adalah

Dari kalimat syahadat ini, kemudian syahadat di bagi menjadi dua
1. Syahadat Tauhid, yaitu sebuah pengakuan dengan dasar keyakinan untuk mengesakan Allah, Tiada Tuhan selain Allah dan
2. Syahadat Rasul, yaitu pengakuan dengan keyakinan bahwa Allah telah mengutus manusia pilihan yang terakhir, tidak ada nabi setelahnya yaitu Muhammad SAW.
Orang yang telah menyatakan keyakinannya dengan sebenar-benarnya dan diucapkan dengan sungguh-sungguh tanpa tekanan dari siapapun otomatis dia telah menjadi seorang muslim atau beragama Islam. Jika seseorang telah menjadi seorang muslim maka secara otomatis ia wajib menjalankan ajaran-ajaran Islam, mulai dari shalat, puasa, zakat dan haji serta wajib menjalankan segala bentuk kebaikan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan Nabinya Muhammad SAW. Jadi konsekuensinya dia wajib menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangnnya.
Syahadat sebagai sebuah pengakuan yang diucapkan karena sebuah keyakinan, memiliki nilai-nilai yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia, misalnya;
1. Tanggung jawab, orang yang sudah bersyahadat bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakini dan diikrarkannya, berupa konsekuensi menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya
2. Sabar, seorang yang telah bersyahadat harus mampu menunjukan sifat sabarnya dalam beribadah dan berbuat baik kepada sesama manusia, misanya dalam ibadah shalat, puasa, zakat dan haji dalam ibadah ritual serta menunjukan kesabarannya dalam ibadah social, seperti menolong sesama dan berbuat baik pada sesama
3. Focus, orang yang telah bersyahadat hidupnya harus focus yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT, iapun harus sungguh-sungguh dalam melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan rasulnya.
4. Bersikap konsisten, adalah hal yang sangat penting saat orang telah bersyahadat. Karena ibadah yang dilakukannya harus dilakukan dengan ikhlas dan terus menerus.
5. Orang yang telah bersahadat harus menunjukan sikap shiddiq, amanah , fathanah dan tabligh
6. Sikap hidupnya tegas dan jelas, jelas baginya hal halal dan yang haram.
7. Orang yang telah bersyahadat harus memiliki sikap yang peduli/respect terhadap kehidupan, sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk memperbaiki Akhlak manusia.”
Itulah beberapa nilai-nilai yang harus ditunjukan seorang muslim saat dia melakukan ibadah ritual dan ibadah social karena Allah SWT.
8. Persaudaraan. Orang yang telah bersyahadat berarti telah diikat oleh Allah SWT dalam sebuah ikatan yaitu persaudaraan antar orang yang beriman, sesungguhnya setiap muslim adalah bersaudara.
Allah berfirmman

“orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Qs. Al-Hujuraat; 10.”

Dipublikasi di KEIMANAN | Meninggalkan komentar

Naik Turunnya Iman

Naik turunnya Iman/Kuat Lemahnya Iman

Al iimanu yazid wa yankus
Kayakinan atau iman yang kita miliki memiliki ukuran atau kadar. Ukuran atau kadar keimanan seseorang bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah atau berkurang keimanan seseorang berkait dengan perbuatan baik atau ibadahnya kepada Allah secara ritual maupun secara social. Rasulullah SAW menyampaikan pean dalam hal ini, yaitu; Al iimanu yazid wa yankus
Naik atau turunya keimanan seseorang bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu: Iman akan bertambah berdasarkan firman Allah dalam surat al-anfaal ayat 2 adalah
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (Qs. Al-Anfal ayat 2.)
Keimanan orang yang beriman akan bertambah bila disebutkan nama-nama Allah dan dibacakan Ayat Allah. Dan Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman yang berilmu pengetahuan sebagai mana firmannya
Hai orang-orang beriman apabila d ikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Almujadilah ayat 11.)
Iman bertambah ketika
1. Menyatakan diri beriman kepada Allah
2. Berusaha selalu berdzikir/ingat kepada Allah SWT dengan segala kekuasaannya.
3. Orang yang mempelajari agama dan nilai-nilainya dari sumber utama yaitu al-quran dan hadist
4. Mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
5. Mempelajadi sirah/sejarah Nabi Muhammad SAW
6. Bertanya kepada para ulama atau cendikiawan Islam terhadap masalah yang dihadapinya untuk diselesaikan sesuai syariat agama Islam.
Dan iman akan menjadi sangat lemah jika;
1. Kejahilan dan kebodohan, malas, tidak mau mengupgrade diri menjadi lebih baik
2. Bermaksiat/berbuat dosa kepada Allah SWT
3. Mengikuti tuntutan jiwa yang selalu mengajak kepada perilaku buruk
4. Bergabung dengan lingkungan/teman yang buruk
Setelah kita tahu mana jalan yang dapat meningkan dan menguatkan Iman serta tahu juga jalan yang melemahkannya, maka tugas kita selanjutnya adalah untuk selalu bersikap konsisten menempuh jalan yang bisa meningkatkan dan menguatkan sehingga lemahnya iman selalu dapat kita antisipasi, baarakallaahu lii walakum…

Dipublikasi di KEIMANAN | Meninggalkan komentar

Nilai-Nilai Syahadat Dalam Kehidupan Sehari-hari

Setiap orang yang sudah mengungkapkan syahadat dengan sebenarnya, dengan penuh keyakinan maka dia secara otoamatis menjadi seorang muslim, yaitu sosok manusia yang hanya tunduk patuh dan taat hanya kepada Allah SWT. Syahadat yang telah diungkapkan memiliki nilai-nilai moral seperti
1. Tanggung jawab
2. Sabar
3. Fokus
4. Sungguh-Sungguh
5. Konsisten
6. Shiddiq
7. Amanah
8. Fathonah
9. Tabligh
10. Tegas/memiliki pendirian yang kuat/teguh pendirian
11. Respect/peduli
Nilai-nilai tersebut sudah semestinya ada dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diri seorang muslim, hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh yang Mulia Muahmmad SAW.

Dipublikasi di IBADAH | Meninggalkan komentar

Tiga Pertanyaan yang akan Mengarahkan Langkah ke Jalan yang Benar

Tiga Pertanyaan yang akan Mengarahkan Langkah ke Jalan yang Benar

Seorang muslim harus menyadari hidupnya, dari mana, untuk apa, mau kemana. Kata dari mana, kita bertanya tentang asal kejadian kita sebagai manusia dan jawabnya adalah semua manusia diciptakan oleh Allah SWT dari air yang hina, yang merupakan saripati makanan yang berasal dari tanah. Singkatnya demikian. Lalu untuk apa? Pertanyaan ini mengarahkan kita untuk apa Allah ciptakan kita, manusia di dunia ini. Sadarilah bahwa Allah ciptakan kita hanya untuk beribadah kepadanya. Lalu mau kemana? Pertanyaan ini menunjukan pada outcome atau tujuan yang akan kita capai dalam proses menjalani hidup di dunia ini. Tentu saja arah tujuan hidup seorang muslim setelah dia tahu tujuan diciptakan dirinya adalah menuju kasih sayang/ridho atau surganya Allah SWT. Tempat kebahagiaan yang abadi/permanen setelah kehidupan dunia berakhir.

Hidup seorang muslim adalah hidup yang jelas, hidup yang bermartabat dan bermanfaat dan hidup yang mulia. Mengapa demikian? Karena dia tahu dari mana, untuk apa dan akan kemana. Ketika sebagai muslim kita menyadari, mengetahui dan memahami akan asal kejadian, untuk apa diciptakan dan akan kemana setelah kehidupan di dunia ini berakhir tentu setiap muslim akan mengarahkan langkah kakinya tepat pada sasaran yang dituju, sehingga perjalanan hidupnya menjadi perjalanan hidup yang bermakna, bagi dirinya, lingkungannya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Demikianlah Allah menciptakan segala sesuatu dan kita manusia mempunyai tujuan, tidak ada satupun yang sia-sia.

Dipublikasi di IBADAH | Meninggalkan komentar

Islam dan Keragaman

Islam dan Keragaman

Acuan suci ajaran Islam, Al-Quran, dengan sangat tegas menyatakan bahwa keragaman adalah taqdir dari Allah SWT pencipta alam semesta.

pertama tentang penciptaan manusia; manusia diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, lalu dengannya terciptalah manusia-manusia lain yang disebut sebagai keturunan yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan satu tujuan untuk saling mengenal satu sama lain, pernyataan ini dijelaskan Allah dalam firmanNya berikut;

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujuraat (49) ayat 13.)

Dalam ayat ini Allah juga menjelaskan tentang kualitas manusia, dengan derajat kemuliaan yang diberikan baginya (manusia) yaitu untuk mereka yang paling bertaqwa.

Ayat ini menjelaskan tentang keragaman manusia secara fisik dan jenis kelamin dan ras/keturunan dari banyak bangsa. Hal yang paling mendasar yang terkadang tidak terpikir oleh kita adalah selain memiliki perbedaan secara fisik sudah otomatis manusia memiliki keragaman dari sisi pemikiran/pemahaman, pilihan hidup, kesukaan dan hal lain yang sudah pasti terjadi perbedaan karena manusia telah diberi aqal/pikiran.

Perbedaan dalam pemahaman dan aqal/fikiran juga telah disampaikan oleh sang Empunya Allah SWT. Allah menyatakan kalau Allah mau maka manusia ini akan dijadikan satu ummat saja, sebagai orang yang beriman;

dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Annahl: 93.)

Ayat yang menerangkan dengan hal sejenis diatas dapat kita temukan dalam QS. Hud; 118, juga al-maidah; 48. Secara logis dapat kita simpulkan bahwa keberagaman memang taqdir Allah dan kita tidak boleh menafikannya, kita harus menerima dengan lapang dada, ikhlas sebagai bukti ketundukan dan kepatuhan (muslim) kita kepada Allah SWT. Dan secara logis pula dapat kita simpulkan kalau kita harus menjaga keragaman tersebut, tentunya haram melakukan penghancuran keragaman karena dalam keyakinan sebagai muslim keragaman adalah taqdir Allah SWT, dengan saling menjaga keragaman satu sama lain maka hidup ini akan semakin indah. Anti keragaman dalam berbagai sisi, misalnya masalah etnis dan keyakinan/agama sama saja kita anti terhadap taqdir Allah SWT. Mari jaga keragaman yang telah menjadi kekayaan SDM dan budaya bangsa Indonesia.

Dipublikasi di KEIMANAN | Meninggalkan komentar

Indahnya berIslam; Hidup dalam Doa dan Amal shaleh

Indahnya berIslam; Hidup dalam Doa dan Amal shaleh

Manusia adalah ciptaan Allah, Makhluk Allah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang berasal dari Allah. Manusia diberi kekuatan dan Allahlah sang pemilik kekuatan itu. Indahnya berislam hidup dalam doa adalah sebuah hasil renungan, dimana kita sebagai muslim yang dalam hal ini bermakna manusia yang pasrah, menyerahkan diri mencari jalan selamat hanya kepada Allah. Bukankah dalam setiap gerak dan ucap kita sejak bangun tidur sampai tidur kembali tidak pernah terlepas dari upaya penyerahan diri kepada Allah, yaitu dengan berdoa.

Mari kita lihat siklus hidup kita sebagai muslim, setiap kita hendak melakukan aktivitas yang baik diajarkan dengan memulainya dengan doa, basmalah. Ketika kita mau tidur, diawali dengan doa, saat kita bangun tidur, kita diajarkan membaca doa. Saat kita mau masuk kamar mandi, kita memanjatkan doa, saat kita membasahi badan dengan air kita mengungkapkan doa. Demikian halnya saat kita telah selesai, ketika kita keluar dari kamar mandi kita membaca doa, lalu kita bercermin dan memakai pakaian semua tidak terlepas dari doa-doa.

Doa adalah permohonan, permintaan. Kita memohon dan meminta kepada Sang Pemilik Semua yang ada, Allah SWT. Memohon perlindungan dan keselamatan dariNya karena Dialah Sang Empunya Perlindungan dan keselamatan.

Setelah semua rapih, kita bersiap-bersiap mencari rizki dan ridhoNya yang sudah dihamparkaNya di muka bumi. Langkah kita keluar dari rumah ingin melakukan perjalanan kita awali dengan doa, demikian juga halnya saat kita sedang mengendarai kendaraan kita mengungkapkan doa. Secara umum doa-doa telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita bertanda kita mengakui keberadaan dan posisiNya. Hal ini secara otomatis kita mengakui siapa diri kita sebenarnya.

Selain doa yang terungkap dalam rutinitas keseharian secara umum, kita juga melakukan doa doa secara khusus pada waktu, waktu tertentu selama lima waktu, pada waktu subuh, waktu dzuhur, waktu ashar, waktu maghrib, waktu isya. Siklus ungkapan ini secara khusus akan selalu berulang, berputar mengiringi berjalanannya, selama kita masih menjalani hidup ini. Apakah itu doa yang umum berlaku atau yang khusus berwaktu. Doa-doa akan selalu terungkap dari orang-orang yang sadar, mengerti dan memahami serta tahu diri.

Namun demikian hanya sekedar mengungkapkan doa saja tentu terasa hambar jika ungkapan doa tidak dibarengi dengan acation/aksi perbuatan baik yang mengiringinya. Karena kesempurnaan doa akan sempurna jika diikuti dengan perbuatan, sebagai mana shalat tidak menjadi sempurna jika kita tidak mampu menahan diri atau menjauhi diri dari perbuatan fahsya dan munkar. Sungguh indah terasa hidup ini, begitu bermaknanya hidup ini, ketika kita memahami makna dan tujuan hidup yang telah diamanahkanNya, yaitu hanya untuk mengabdi/beribadah kepada Allah, secara ritual, hablumminallaah dan secara sosial, hambumminannaas. Wallaahu a’lam. Baarakallahu lii walakum

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar