Islam Agama Cinta

Kemarin seorang teman seperjuangan dalam belajar dan berdakwah pada wadah pemuda Masjid Al-Azhar, Youth Islamic Study Club Al-Azhar menghubungi via Fb messenger kalau dia sedang menulis sebuah buku yang akan segera diterbitkan dengan judul , “Agama Cinta, Menyelami Samudra Cinta Agama-Agama”. Sebuah judul yang sangat menarik bagi saya dan tentu saya sangat memahami alasan penerbitan buku ini diantaranya penampilan agama-agama seperti tanpa cinta. Beliau ingin menyampaikan bahwa agama meski berbeda tetapi memiliki titik temu, yaitu mengajarkan cinta, kedamaian. Dan pada titik inilah seharusnya setiap orang yang mengaku beragama mau berdamai dengan keyakinan agama lain yang berbeda.

Dalam konsep Islam yang saya pahami demikianlah adanya, yang tercinta Muhammad diutus oleh Sang Pecinta untuk menebarkan cinta di bumi-Nya. Namun, perjalanan sejarah tidak bisa kita pungkiri, persinggungan pemahaman antar sesama atau kecurigaan satu sama lain, merasa akan terusik keyakinannya, pengikutnya, pemahamannya, dan lain-lain menjadi akar atas permusuhan dan pertumpahan darah antar pemeluk atau yang berbeda. Sungguh sangat disayangkan tebaran cinta kasih sayang Allah SWT kepada manusiaberuah menjadi kebencian dan permusuhan yang seakan tanpa ada celah untuk berdamai dan bersama.

Mari tunjukan rasa cinta pada sesama karena Agama kita mengajarkan cinta. 

Islam yang Membebaskan

Islam yang Membebaskan

Islam begitu mempesona, ajararannya melindungi kemuliaan manusia.

Percaya atau tidak, tapi itulah yang saya pahami. Mungkin saja tidak sedikit yang menentang pernyataan saya ini, dan itu tidak masalah. Mengapa karena setiap orang punya hak untuk menerima atau menentangnya. Dari semua itu yang terpenting adalah mendiskusikan apa yang ditentangnya. Bukan mencaci atau memaki, yang jauh dari koridor kecerdasan.

Membebaskan?, membebaskan yang saya maksud disini adalah melepaskan manusia dari penyembahan tuhan-tuhan selain Allah, membebaskan manusia dari sosok yang tidak memiliki sifat ketuhanan yang utama mencipta, mencipta semua yang ada dan yang ghaib.  Membebaskan manusia dari segala perbuatan yang dapat merendahkan derajat kemanusiaan membebaskan manusia dari perbuatan yang dapat merusak diri pribadi bahkan kehidupan manusia secara umum.

Islam itu membebaskan, sebagai contoh pada masa awal perjuangan Nabi Muhammad. Seorang budak Bilal bin Rabbah, ia menerima kebenaran Islam berkait dengan keyakinannya pada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa.

Saat beliau ingin membebaskan dirinya yang mengungkapkan kepada majikan atau tuannya, beliau disiksa oleh “pemilik” dirinya, siksaan fisik yang sangat berat, ternyata tidak mampu mengguncangkan kebenaran yang telah diserapnya. Sampai akhirnya secara defakto dan dejure beliau dibebaskan oleh sahabat sang tercinta. Iapun menjadi manusia bebas layaknya bangsawan arab saat itu.

Atau sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dan mengharukan, yaitu Islamnya seorang pengemis buta yang ada di sebuah pasar di madinah almunawarah. Pengemis buta ini selalu mengungkapkan kebenciannya kepada yang tercinta Muhammad SAW, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pemabuk, penyihir, pembohong dan umpatan-umpatan keji lainnya. Namun dengan kerendahan dan ketulusan hati, beliau selalu mendatangi pengemis ini, memberinya makan, bahkan lebih dari itu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.

Singkat cerita, setelah belaiu tahu bahwa orang yang kerap mendatanginya dengan layanan kasih sayang yang luar biasa telah meninggal dunia dan dia adalah yang tercinta Muhammad SAW. Pengemis itu mengalami kesedihan yang sangat dalam dan akhirnya iapun menyatakan keislamannya dihadapan sahabat Nabi. Pengemis tersebut telah membebaskan dirinya.

Itulah Islam yang saya pahami, tidak pernah memaksa sebagaimana ungkapan Allah SWT, “Tidak ada paksaan dalam beragama”, Manusia telah diberikan oleh Allah potensi yang luar biasa dalam dirinya, potensi itulah yang menentukan arah hidupnya, mau beriman atau tidak, itu pilihan.

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. An-Nahl: (6): 125.

Wallaahu a’lam.

 

 

Pacaran, Boleh Tidak Ya?

Pacaran, Boleh Tidak Ya?

Pacaran, boleh tidak ya? Begitulah pertanyaan yang sering terungkap dari mulut para remaja, bahkan mungkin anak yang baru akan meningkat remaja. Sebenarnya sangat mudah sekali menjawab pertanyaan semacam ini. Kita tidak perlu mendefinisikan pacaran atau mengkaitkannya pacaran dengan agama atau pacaran menurut pandangan agama Islam.

Jadi boleh tidak pacaran itu? Boleh atau tidaknya pacaran itu cobalah kalian wahai para remaja mengetahui apa saja sih aktivitas yang dilakukan oleh orang yang berpacaran?

Berikut analisa jawabannya

  1. Jika akitivitas yang dilakukan oleh orang yang berpacaran melanggar aturan agama, berpegangan tangan, berpandangan  dengan karena nafsu syahwat dan lain-lain sehingga akan membawa si pelaku pacaran ini pada hubungan suami istri tanpa adanya proses akad nikah, ataupun tidak, maka pacaran itu menjadi perbuatan yang terlarang dalam agama dan dibenci oleh Allah.
  2. Jika pacaran itu hanya hubungan pertemanan untuk ngobrol, sharing, saling mengingatkan untuk ibadah kepada Allah dalam arti tidak melanggar yang dilarang aturan agama, maka pacaran seperti itu sah-sah saja, boleh.

Nah untuk jawaban yang kedua ini sering mendapat protes dari beberapa remaja, ungkapannya seperti ini, “wah mana seru pacaran model kaya gitu?”, dari sikap protes ini tentu ada maksud tertentu dari sipelaku pacaran bukan?

Agama Islam, melarang ada maksudnya yaitu ingin menyelamatkan manusia, Allah itu sayang kepada manusia, sebab tanpa ada batasan dalam berpacaran maka yang terjadi adalah perbuatan saling merugikan, plus yang harus kita pahami, manusia merupakan makhluk yang mulia, maka menjaga diri dari kemaksiatan adalah sikap yang mulia.

Lihatlah fenomena orang-orang yang berpacaran, kebanyakan menghalalkan yang diharamkan Allah, saat hal itu dilakukan, maka kemuliaannya menjadi hilang. Agama tidak sekedar melarang, tapi ada maksud baik dari larangan itu, untuk saling menjaga kemuliaan manusia, wallaahu a’lam.

 

Beriman Kepada Malaikat

Beriman Kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat merupakan turunan dari beriman Kepada Allah. Setiap orang yang beriman mengakui bahwa Allah SWT menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Malaikat membantu Allah dalam menyampaikan pesan sucinya kepada para utusan yang dimuliakan dan dipercayakan menjadi Nabi dan Rasul Allah. Beriman kepada malaikat bermakna mengakui dan meyakini bahwa Allah menciptakan makhluk yang khusus untuk beribadah kepada-Nya.

Malaikat digambarkan sebagai sosok makhluk Allah yang bisa berwujud/menyerupai manusia saat memasuki dunia manusia. Hal ini terjadi dan dialami oleh Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu dari Allah. Menurut keyakinan setiap muslim, malaikat diciptakan Allah dari nuur, cahaya. Sebagaimana kita tahu character dari cahaya itu lembut dan menyejukan.

Malaikat adalah makluk ghaib. Dikatakan ghaib karena ia tidak dapat diindera oleh mata manusia. biasa Hanya orang-orang tertentu/luarbiasa yang diberikan kelebihan oleh Allah, seperti para nabi dan rasul yang mampu menyaksikan dan berdialog padanya. Beiman kepada Malaikat adalah bagian dari rukun Iman.