Islam yang Membebaskan

Islam yang Membebaskan

Islam begitu mempesona, ajararannya melindungi kemuliaan manusia.

Percaya atau tidak, tapi itulah yang saya pahami. Mungkin saja tidak sedikit yang menentang pernyataan saya ini, dan itu tidak masalah. Mengapa karena setiap orang punya hak untuk menerima atau menentangnya. Dari semua itu yang terpenting adalah mendiskusikan apa yang ditentangnya. Bukan mencaci atau memaki, yang jauh dari koridor kecerdasan.

Membebaskan?, membebaskan yang saya maksud disini adalah melepaskan manusia dari penyembahan tuhan-tuhan selain Allah, membebaskan manusia dari sosok yang tidak memiliki sifat ketuhanan yang utama mencipta, mencipta semua yang ada dan yang ghaib.  Membebaskan manusia dari segala perbuatan yang dapat merendahkan derajat kemanusiaan membebaskan manusia dari perbuatan yang dapat merusak diri pribadi bahkan kehidupan manusia secara umum.

Islam itu membebaskan, sebagai contoh pada masa awal perjuangan Nabi Muhammad. Seorang budak Bilal bin Rabbah, ia menerima kebenaran Islam berkait dengan keyakinannya pada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa.

Saat beliau ingin membebaskan dirinya yang mengungkapkan kepada majikan atau tuannya, beliau disiksa oleh “pemilik” dirinya, siksaan fisik yang sangat berat, ternyata tidak mampu mengguncangkan kebenaran yang telah diserapnya. Sampai akhirnya secara defakto dan dejure beliau dibebaskan oleh sahabat sang tercinta. Iapun menjadi manusia bebas layaknya bangsawan arab saat itu.

Atau sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dan mengharukan, yaitu Islamnya seorang pengemis buta yang ada di sebuah pasar di madinah almunawarah. Pengemis buta ini selalu mengungkapkan kebenciannya kepada yang tercinta Muhammad SAW, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pemabuk, penyihir, pembohong dan umpatan-umpatan keji lainnya. Namun dengan kerendahan dan ketulusan hati, beliau selalu mendatangi pengemis ini, memberinya makan, bahkan lebih dari itu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.

Singkat cerita, setelah belaiu tahu bahwa orang yang kerap mendatanginya dengan layanan kasih sayang yang luar biasa telah meninggal dunia dan dia adalah yang tercinta Muhammad SAW. Pengemis itu mengalami kesedihan yang sangat dalam dan akhirnya iapun menyatakan keislamannya dihadapan sahabat Nabi. Pengemis tersebut telah membebaskan dirinya.

Itulah Islam yang saya pahami, tidak pernah memaksa sebagaimana ungkapan Allah SWT, “Tidak ada paksaan dalam beragama”, Manusia telah diberikan oleh Allah potensi yang luar biasa dalam dirinya, potensi itulah yang menentukan arah hidupnya, mau beriman atau tidak, itu pilihan.

serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. An-Nahl: (6): 125.

Wallaahu a’lam.

 

 

Pacaran, Boleh Tidak Ya?

Pacaran, Boleh Tidak Ya?

Pacaran, boleh tidak ya? Begitulah pertanyaan yang sering terungkap dari mulut para remaja, bahkan mungkin anak yang baru akan meningkat remaja. Sebenarnya sangat mudah sekali menjawab pertanyaan semacam ini. Kita tidak perlu mendefinisikan pacaran atau mengkaitkannya pacaran dengan agama atau pacaran menurut pandangan agama Islam.

Jadi boleh tidak pacaran itu? Boleh atau tidaknya pacaran itu cobalah kalian wahai para remaja mengetahui apa saja sih aktivitas yang dilakukan oleh orang yang berpacaran?

Berikut analisa jawabannya

  1. Jika akitivitas yang dilakukan oleh orang yang berpacaran melanggar aturan agama, berpegangan tangan, berpandangan  dengan karena nafsu syahwat dan lain-lain sehingga akan membawa si pelaku pacaran ini pada hubungan suami istri tanpa adanya proses akad nikah, ataupun tidak, maka pacaran itu menjadi perbuatan yang terlarang dalam agama dan dibenci oleh Allah.
  2. Jika pacaran itu hanya hubungan pertemanan untuk ngobrol, sharing, saling mengingatkan untuk ibadah kepada Allah dalam arti tidak melanggar yang dilarang aturan agama, maka pacaran seperti itu sah-sah saja, boleh.

Nah untuk jawaban yang kedua ini sering mendapat protes dari beberapa remaja, ungkapannya seperti ini, “wah mana seru pacaran model kaya gitu?”, dari sikap protes ini tentu ada maksud tertentu dari sipelaku pacaran bukan?

Agama Islam, melarang ada maksudnya yaitu ingin menyelamatkan manusia, Allah itu sayang kepada manusia, sebab tanpa ada batasan dalam berpacaran maka yang terjadi adalah perbuatan saling merugikan, plus yang harus kita pahami, manusia merupakan makhluk yang mulia, maka menjaga diri dari kemaksiatan adalah sikap yang mulia.

Lihatlah fenomena orang-orang yang berpacaran, kebanyakan menghalalkan yang diharamkan Allah, saat hal itu dilakukan, maka kemuliaannya menjadi hilang. Agama tidak sekedar melarang, tapi ada maksud baik dari larangan itu, untuk saling menjaga kemuliaan manusia, wallaahu a’lam.

 

Beriman Kepada Malaikat

Beriman Kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat merupakan turunan dari beriman Kepada Allah. Setiap orang yang beriman mengakui bahwa Allah SWT menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Malaikat membantu Allah dalam menyampaikan pesan sucinya kepada para utusan yang dimuliakan dan dipercayakan menjadi Nabi dan Rasul Allah. Beriman kepada malaikat bermakna mengakui dan meyakini bahwa Allah menciptakan makhluk yang khusus untuk beribadah kepada-Nya.

Malaikat digambarkan sebagai sosok makhluk Allah yang bisa berwujud/menyerupai manusia saat memasuki dunia manusia. Hal ini terjadi dan dialami oleh Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu dari Allah. Menurut keyakinan setiap muslim, malaikat diciptakan Allah dari nuur, cahaya. Sebagaimana kita tahu character dari cahaya itu lembut dan menyejukan.

Malaikat adalah makluk ghaib. Dikatakan ghaib karena ia tidak dapat diindera oleh mata manusia. biasa Hanya orang-orang tertentu/luarbiasa yang diberikan kelebihan oleh Allah, seperti para nabi dan rasul yang mampu menyaksikan dan berdialog padanya. Beiman kepada Malaikat adalah bagian dari rukun Iman.

Al-Waqt Kas-saif, Waktu Tajam Bagaikan Pedang

Al-Waqt Kas-saif

Ada sebuah kalimat/pepatah yang kerap diungkapkan beberapa teman pada kegiatan muhadhoroh dipondok. Rangkaian kata yang sangat bermakna serta memiliki nilai juga pelajaran yang sangat luar bisa jika kita mau merenunginya. Kalimat pepatah yang sudah sangat akrab di telingan para santri itu tertulis dalam bahasa Arab, yaitu Alwaqtu kas-saif idza lam taqtha’ahu qatha’aka” (maaf ini bukan bahasa Arab, tapi bacaannya kira-kira seperti itu) artinya kurang lebih seperti ini, Waktu ibarat Pedang, kalo tidak kamu yang memotongnya maka dia akan memotongmu”

Pagi ini update status saya di jejaring social facebook sebagai berikut, Waktu berputar cepat, memotong dengan tajam, membelah kehidupan berkeping-berkeping, alangkah sayangnya jika pada kepingan-kepingan tersebut tak bermakna satupun, rugi sekali hidup ini, agar tidak menjadi makhluknya yang selalu merugi pada setiap potongannya, nyok mari kita memberi makna pada kepingan-kepingan tersebut.

Terus terang status tersebut memang terinspirasi dari rangkaian kata dalam pepatah arab tersebut. Lalu saya mencoba flash back, lima atau sepuluh tahun lalu, ternyata bukanlah hal yang lama, masih terekam dalam ingatan empat atau lima tahun yang lalu saya masih merindukan hadirnya momongan, namun kini momongan itu telah hadir dan telah berusia lima tahun lebih. Empat atau lima tahun yang lalu ia masih bayi, ku timang dan ku gendong sambil mengumandangkan asmaul husna. Tak terasa waktu lima tahun itu.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saya masih mengajar secara non formal dalam kegiatan sosial religius, tak terasa pula aku telah mengajar secara formal selama itu, sejak TA 2003 di Bekasi, dan sejak 2005 hingga 2012 di Cilandak jakarta. Waktu itu terlewati, tak terasa, begitu cepat, kalau kata almarhum KH. Zaenuddin MZ, tau…tau…eh…tau…tau… dulu masih anak-anak, eh tau…tau…sekarang udah punya anak. Saya sangat bersyukur, alhamdulillah saya mencoba mengisi tiap helai potongannya dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna, alhamdulillah hingga saat ini. Semoga Allah memberi kekuatan untuk tetap berada dalam jalur-Nya dan berjuang untuk ajaran-Nya.

Menyiasati Perubahan Waktu Dengan Iman dan Amal Shaleh

Detik berdetak menjadi menit, menit berubah menjadi jam, jam terus berputar berganti hari, hari bergeser menjadi minggu, dari minggu keminggu jadilah bulan, dari bulan hadirlah tahun, setahun…dua tahun…tiga tahun…dan seterusnya itulah waktu. Terus bergerak melasat cepat memotong tiap sessi kehidupan.

Dalam al-Quran Allah surah al-Ashr ayat 1-3, Allah mengingatkan hamba-Nya tercinta untuk tetap berada dalam kondisi yang konsisten penuh kesadaran (Iman) serta menapakan langkah di jalur-Nya agar tidak menjadi makhluk yang merugi.

“demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Dari pesan suci tersebut saya mendapatkan kata kunci, kata kunci yang menjadikan kita tetap menjadi makhluk yang mulia dan terhormat, apa kata kuncinya? Ini dia… beriman dan mengerjakan amal saleh serta nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran juga nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Alwaqt kas-saif, waktu tajam bagaikan pedang, idza lam taqtha’ahu qatha’aka, jika kita tidak memotongnya, dialah yang akan memotong kita. Saat waktu memotong dalam hidup kita dan kita dalam kondisi ketidak sadaran karena buaian manis dan hangat tipuan dunia, rugi dan meranalah diri. Namun saat kita mampu memotong waktu maka itu bermakna kita berusaha mengisi setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun dengan segala sesuatu yang baik yang dicintai-Nya, untuk apa? Agar kita tidak menjadi orang yang tidqak merugi di akhir, suu ul khotimah, melainkan husnul khotimah, akhir yang baik, happy ending gitu loch. semoga. Wallaahu a’lam.